Berita  

Dari Pegunungan Latimojong ke Polda Metro Jaya, Napak Tilas Pengabdian Irjen Adex Yudiswan

FAKTADELIK.COM, LUWU –  Sebelas tahun telah berlalu sejak tragedi jatuhnya pesawat Aviastar di kawasan Pegunungan Bajaja, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu. Namun kisah tentang perjuangan pencarian dan evakuasi para korban masih menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdian Irjen Pol Adex Yudiswan.

Saat tragedi itu terjadi, Adex Yudiswan masih menjabat sebagai Kapolres Luwu. Ia memimpin personelnya menyusuri medan Pegunungan Bajaja yang terjal dan sulit dijangkau untuk mencari pesawat yang hilang kontak dalam penerbangan dari Masamba menuju Makassar.

Setelah menempuh perjalanan panjang, tim akhirnya menemukan lokasi jatuhnya pesawat.

Kondisinya sangat memilukan. Bangkai pesawat ditemukan dalam keadaan hancur dan sebagian terbakar, sementara para korban ditemukan di sekitar lokasi.

Bagi Adex, penemuan tersebut bukan akhir dari tugas. Justru menjadi awal dari pekerjaan kemanusiaan yang jauh lebih berat: mengevakuasi para korban dari kawasan pegunungan.

Karena hari mulai malam dan kondisi medan tidak memungkinkan proses evakuasi dilakukan secara maksimal, Adex memutuskan agar personelnya mendirikan tenda dan bermalam tidak jauh dari lokasi.

Keesokan harinya, proses evakuasi dimulai.

Para korban harus dibawa keluar dengan berjalan kaki melewati medan ekstrem. Keterbatasan akses dan mulai menipisnya perbekalan membuat proses tersebut semakin berat.

Namun Adex tidak hanya memberikan komando.

Ia turun langsung bersama personelnya.

Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika Adex ikut membawa jenazah seorang anak menggunakan selembar sarung untuk keluar dari lokasi.

Kesaksian tersebut disampaikan IPDA Dindar, salah seorang personel yang ikut dalam operasi pencarian dan evakuasi.

«“Pak Irjen Pol Adex juga ikut menggotong jenazah. Ada satu jenazah anak yang dibawa menggunakan sarung,” ungkapnya.»

Tindakan tersebut menjadi gambaran kepemimpinan Adex di lapangan. Di tengah medan berat dan situasi penuh duka, ia memilih berada bersama personelnya dan ikut merasakan langsung beratnya proses evakuasi.

Dalam perjalanan keluar dari lokasi, Adex juga membawa potongan kecil bagian pesawat yang ditemukan di lokasi tragedi.

Atas keberhasilan dalam operasi pencarian dan evakuasi tersebut, Adex Yudiswan bersama personel yang terlibat kemudian mendapatkan penghargaan berupa PIN Emas.

Namun penghargaan bukanlah tujuan utama.

Yang menjadi prioritas saat itu adalah menemukan pesawat, mengevakuasi korban dan membawa mereka kembali agar dapat diserahkan kepada keluarga.

Sebelas tahun kemudian, perjalanan pengabdian Adex Yudiswan telah membawanya ke posisi yang berbeda.

Perwira yang dahulu memimpin pencarian dan evakuasi di Pegunungan Latimojong saat menjabat Kapolres Luwu itu kini dipercaya mengemban amanah sebagai Wakapolda Metro Jaya.

Dari medan terjal Pegunungan Bajaja menuju pusat pemerintahan dan kepolisian di Jakarta, perjalanan tersebut menjadi bagian dari panjangnya pengabdian Adex Yudiswan di institusi Polri.

Bagi mereka yang pernah berada bersamanya dalam operasi Aviastar, Adex bukan hanya dikenang sebagai seorang komandan yang memberikan perintah.

Ia dikenang sebagai pimpinan yang turun langsung ke medan, bermalam bersama personel, dan ikut menggotong korban dalam sebuah misi kemanusiaan.

Sebelas tahun berlalu. Jabatan dan tempat pengabdian boleh berubah, tetapi jejak kepemimpinan yang pernah ditunjukkan di Pegunungan Bajaja tetap menjadi bagian dari sejarah perjalanan Irjen Pol Adex Yudiswan.

Dari Luwu, sebuah operasi kemanusiaan menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang perwira hingga dipercaya mengemban amanah sebagai Wakapolda Metro Jaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *