TANJUNGBALAIb – Jeritan datang dari para pengembang perumahan subsidi. Kelangkaan semen dan harga yang melambung gila-gilaan membuat proyek rumah rakyat di Kota Tanjungbalai terhenti dan terancam mangkrak.
ISRAFIN NAHRI, developer yang fokus membangun rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah, jadi salah satu yang paling terdampak.
“Bagaimana mewujudkan cita-cita Bapak Presiden Prabowo jika suplai material naik gila-gilaan?” ucapnya dengan nada khawatir, Kamis 26/6/2026.
*Harga Semen Tembus Langit*
Harga di pasaran Tanjungbalai kini tak masuk akal bagi developer subsidi:
*1. Semen Andalas*: Rp75.000 per sak
*2. Semen Merah Putih*: Rp62.000 per sak
*3. Semen Rajawali*: Rp70.000 per sak
Masalahnya bukan cuma harga. “Kita sering harus mengantri atau bahkan tidak mendapatkan pasokan sama sekali, padahal jadwal pembangunan sudah ditetapkan matang,” beber Israfin.
*Efek Domino: Besi Naik, Proyek Mati Suri*
Kenaikan harga besi ikut membebani. Kombinasi semen langka + besi mahal membuat banyak pekerjaan rumah subsidi terpaksa dihentikan di tengah jalan.
Akibatnya, rumah-rumah yang seharusnya layak huni kini terbengkalai dengan struktur belum selesai. Ratusan keluarga yang sudah menunggu hanya bisa pasrah. Pembangunan ditunda tanpa kepastian.
*Tuntut Negara Hadir*
“Pengembang subsidi bukan cuma cari untung. Kami ikut mewujudkan visi negara. Seharusnya ini jadi perhatian serius pemerintah,” tegas Israfin.
Ia meminta 3 langkah cepat pemerintah:
*1.* Regulasi harga material konstruksi esensial.
*2.* Distribusi semen diperlancar agar tidak langka.
*3.* Insentif khusus bagi developer rumah subsidi.
“Masyarakat Tanjungbalai sudah menunggu. Cita-cita Presiden tentang rumah rakyat tidak bisa hanya tinggal dalam kata-kata,” pungkasnya di depan proyek yang terpaksa berhenti.
*Harapan Warga*
Tanpa intervensi cepat, kelangkaan ini bukan hanya menghambat beton dan bata. Tapi juga menghancurkan harapan rakyat untuk punya rumah sendiri yang layak dan terjangkau.
Pewarts:solihin













