Berita  

P4S Jadi Motor Regenerasi Petani, Sikola P4S Lamellong Dorong Transformasi Pertanian dari Desa

FAKTADELIK.COM, BONE – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia dan kelembagaan petani. Di tengah tantangan regenerasi petani, keterbatasan akses terhadap teknologi, serta perlunya peningkatan kapasitas kelembagaan, Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) memiliki posisi strategis sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan kapasitas petani.

Data Sensus Pertanian 2023 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 25,12 juta rumah tangga usaha pertanian dan 27,37 juta rumah tangga petani di Indonesia. Namun, struktur usia petani yang masih didominasi kelompok usia lanjut menunjukkan bahwa regenerasi menjadi salah satu agenda penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian nasional.

Dalam konteks tersebut, P4S hadir sebagai ruang pembelajaran pertanian berbasis masyarakat yang memungkinkan petani memperoleh pengetahuan melalui pendidikan nonformal, pelatihan, pendampingan, serta pertukaran pengalaman. Keberadaan P4S juga membuka ruang bagi petani untuk mengenal dan menerapkan inovasi teknologi sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Penguatan sumber daya manusia dan kelembagaan petani sejalan dengan arah pembangunan pertanian nasional. Dalam Rencana Strategis BPPSDMP Kementerian Pertanian 2025–2029, peningkatan kapasitas SDM, penguatan kelembagaan, serta regenerasi petani menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan pertanian yang adaptif dan berkelanjutan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga menempatkan regenerasi petani sebagai salah satu perhatian penting dalam agenda mewujudkan swasembada pangan. Generasi muda didorong untuk tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga menjadi pelaku pertanian yang menguasai teknologi, memiliki kompetensi kewirausahaan, dan mampu mengembangkan usaha tani secara modern.

Semangat tersebut diterapkan melalui Sikola P4S Lamellong, salah satu program dalam inisiatif MANNENNUNGENG yang dikembangkan Tim PPK Ormawa UKM Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI) Universitas Hasanuddin di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Program ini diarahkan untuk memperkuat kelembagaan P4S agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelatihan, tetapi berkembang menjadi pusat pembelajaran, demonstrasi, dan penyebarluasan inovasi pertanian. Penguatan dilakukan melalui penyusunan modul pelatihan, pengembangan kurikulum manajemen kelembagaan, serta pendampingan yang diarahkan pada keberlanjutan organisasi.

Melalui Sikola P4S Lamellong, petani mendapatkan ruang untuk meningkatkan kapasitas tidak hanya dalam aspek teknis budidaya, tetapi juga dalam pengelolaan kelembagaan, perencanaan usaha tani, pengembangan jejaring kemitraan, hingga pemanfaatan teknologi pertanian modern.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena transformasi pertanian tidak cukup dilakukan dengan memperkenalkan teknologi. Petani juga membutuhkan kelembagaan yang mampu mengelola pengetahuan, mengorganisasi anggota, membangun kemitraan, serta memastikan inovasi dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Dalam ekosistem MANNENNUNGENG, penguatan P4S berjalan beriringan dengan penerapan sejumlah inovasi pertanian. Di antaranya teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung efisiensi pengelolaan air, pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik serta pakan ternak, penerapan pola tanam Jajar Legowo, penggunaan varietas unggul, hingga pengembangan metode pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.

Integrasi tersebut menjadikan P4S sebagai ruang belajar yang menghubungkan pengetahuan dengan praktik. Petani dapat melihat, mempelajari, dan menguji penerapan teknologi secara langsung sesuai kondisi usaha tani di lapangan.

Peran seperti ini semakin relevan di tengah perkembangan pertanian digital dan presisi. Kehadiran sensor, sistem irigasi berbasis data, Internet of Things, serta berbagai teknologi budidaya modern membutuhkan mekanisme transfer pengetahuan yang mudah dipahami dan dekat dengan kebutuhan petani.

P4S dapat menjadi penghubung antara inovasi, perguruan tinggi, pemerintah, penyuluh, dan masyarakat tani. Dengan demikian, teknologi pertanian tidak berhenti pada tahap pengembangan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi praktik yang memberikan manfaat nyata bagi petani.

Melalui Sikola P4S Lamellong, penguatan kapasitas diharapkan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan individu. Program ini juga diarahkan untuk membentuk kelembagaan petani yang mampu menjalankan fungsi pembelajaran secara mandiri, mengembangkan jejaring kolaborasi, serta menjadi penggerak adopsi inovasi di tingkat masyarakat.

Pada akhirnya, penguatan P4S merupakan bagian dari investasi jangka panjang terhadap regenerasi dan masa depan pertanian Indonesia. Ketika petani memiliki akses terhadap pendidikan, teknologi, pendampingan, dan kelembagaan yang kuat, peluang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus membangun usaha tani yang berkelanjutan akan semakin terbuka.

Sikola P4S Lamellong menjadi salah satu gambaran bagaimana penguatan kelembagaan dapat dimulai dari tingkat desa dan diarahkan untuk menjawab tantangan pertanian yang lebih luas. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk membangun ekosistem pertanian yang mampu melahirkan petani muda, adaptif, inovatif, dan siap menghadapi transformasi sektor pangan nasional.

Daftar Referensi

1. Badan Pusat Statistik. (2023). Sensus Pertanian 2023 (ST2023): Mencatat Pertanian Indonesia. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.
https://sensus.bps.go.id/main/index/st2023

2. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. (2025). Draft Rencana Strategis (Renstra) BPPSDMP 2025–2029. Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
https://polbangtanyoma.ac.id/wp-content/uploads/2025/09/Draft-Renstra-BPPSDMP-2025-2029.pdf

3. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2026). Menteri Pertanian: Regenerasi Petani Menjadi Fokus Utama Mewujudkan Swasembada Pangan. Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
https://www.pertanian.go.id/?act=view&id=7090&show=news

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *