FAKTADELIK.COM, MAKASSAR – Menjadi mitra pengemudi Maxim menjadi jalan bagi dua mahasiswa di Makassar untuk membiayai pendidikan sekaligus menjaga kelancaran perkuliahan. Reksa Fadillah dan Reinhart memanfaatkan sistem kerja yang fleksibel untuk memperoleh penghasilan tanpa mengesampingkan tanggung jawab akademik.
Bagi keduanya, fleksibilitas menentukan jam kerja menjadi kunci menyeimbangkan peran sebagai pelajar sekaligus pencari nafkah. Mereka mengambil pesanan sebelum berangkat ke kampus, di sela-sela jeda perkuliahan, maupun setelah kegiatan belajar usai.
Reksa Fadillah, mahasiswa semester 9 Universitas Negeri Makassar, telah bergabung selama lima bulan. Ia rata-rata berkendara 6 hingga 7 jam sehari, menyesuaikan jadwal dengan jam kuliah. Penghasilan yang mencapai Rp150.000 per hari digunakan langsung untuk menutupi kebutuhan pendidikan.
“Kalau ada jadwal kuliah, saya mulai ambil pesanan jam 8 pagi sebelum ke kampus, lalu lanjut setelah kuliah sampai sekitar jam 7 malam. Waktunya bisa saya sesuaikan,” ujar Reksa.
Hal serupa dijalani Reinhart, mahasiswa semester 5 Politeknik Negeri Ujung Pandang yang telah menjadi mitra selama dua tahun. Ia memanfaatkan jeda antar-mata kuliah untuk menerima pesanan. Hasil kerjanya mencukupi kebutuhan makan, kos, perlengkapan kuliah, serta perawatan kendaraan.
“Menjadi pengemudi membuat saya lebih mandiri dan terlatih mengatur waktu. Saat ada waktu luang, saya bisa bekerja, lalu kembali fokus belajar,” ungkap Reinhart.
Kisah keduanya menjadi gambaran nyata bagaimana sistem kerja fleksibel yang ditawarkan Maxim dimanfaatkan masyarakat untuk tetap produktif sekaligus memenuhi tanggung jawab pribadi dan pendidikan. Semangat ini diharapkan dapat menginspirasi kaum muda untuk terus berjuang meraih cita-cita melalui langkah yang positif dan halal.













