Faktadelik.com, Sinjai – Penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi kembali merebak di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Sinjai. Wabah ini menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak karena kematian ternak dan penurunan harga jual.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Sinjai, H. Burhanuddin saat ditemui, Jumat 10/7/25. Mengatakan berdasarkan data terbaru Dinas Peternakan setidaknya mencatat sekitar 26 ekor sapi dilaporkan mati hingga bulan ini yang tersebar di berbagai kecamatan di Sinjai akibat virus PMK. Sebut
Virus PMK ini diketahui merupakan penyakit menular khususnya pada hewan dengan kuku terbelah dua seperti sapi, kerbau kambing. Jenis virus dipastikan tidak menular ke manusia.
Pemkab Sinjai melalui Dinas Peternakan hadir melakukan penyuluhan kepada masyarakat, khususnya para pedagang sapi agar bisa menjaga dan tidak sembarang memindahkan ternak ketempat lain apalagi yang terlanjur memiliki ciri-ciri atau gejala terjangkit virus PMK, ini untuk menjaga dan memutus rantai sebaran virus supaya tidak semakin meluas. Apalagi virus ini juga diketahui mampu diterbangkan angin sejauh radius 30 Kilometer
Selain itu, langkah Dinas Peternakan sejauh ini intens melakukan pendampingan dan pelayanan vaksin secara gratis disejumlah wilayah di Kabupaten Sinjai. Hingga saat ini sapi yang sudah berhasil divaksinasi tahap satu mencapai 12 ribu. Sementara data ternak sapi di perkirakan sebanyak 78 ribu lebih.
“Meski demikian Dinas Peternakan sejauh ini terbatas dalam penyediaan vaksin karena keterbatasan anggaran baik dari bantuan pusat maupun daerah. Selain vaksin tantangan dari peternak yang terkesan masih abai terhadap pentingnya program vaksinasi karena berbagai pertimbangan”. Jelasnya
Padahal kalau kita tangani dengan penanganan yang proporsional kami yakini penyakit PMK pada sapi bisa teratasi dengan baik. (*)













