Berita  

Kades Marinding Angkat Suara, Keselamatan Warga Lebih Berharga dari Emas

FAKTADELIK.COM, LUWU – Di balik aktivitas yang diduga sebagai pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Desa Marinding, Kecamatan Bajo Barat, tersimpan kegelisahan seorang kepala desa yang setiap hari menyaksikan perubahan di wilayahnya.

Bukan hanya soal kerusakan alam yang menjadi perhatian serius, tetapi juga keselamatan masyarakat yang sewaktu-waktu dapat menjadi korban apabila aktivitas tersebut terus dibiarkan berlangsung.

Kepala Desa Marinding, Hj. Jamila, mengaku prihatin melihat semakin banyaknya alat berat yang masuk ke wilayah desanya dalam beberapa hari terakhir. Pemandangan yang menurutnya berbeda jauh dibandingkan kondisi sebelumnya itu membuat dirinya bertanya-tanya.

“Saya heran, Dinda, kenapa tiba-tiba banyak sekali alat berat excavator masuk di Marinding. Dulu hanya ada tiga titik, kemudian muncul penolakan dari warga sehingga semua aktivitas berhenti. Bahkan para pekerja sudah keluar. Tapi sekarang, sudah tiga hari terakhir ini justru semakin banyak alat berat yang turun ke sungai,” ungkap Hj. Jamila kepada wartawan.

Ia berharap seluruh aktivitas tambang yang tidak memiliki izin dapat segera dihentikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Tidak hanya itu, Hj. Jamila juga meminta para pelaku bertanggung jawab menutup kembali lubang-lubang bekas galian sebelum menimbulkan korban jiwa.

“Jangan sampai nanti ada masyarakat yang menjadi korban baru semua menyesal. Keselamatan warga harus menjadi prioritas,” ujarnya penuh harap.

Keprihatinan itu sejalan dengan keresahan masyarakat yang belakangan ramai membicarakan dugaan aktivitas tambang emas ilegal di wilayah mereka. Sejumlah warga mengaku khawatir karena aktivitas tersebut diduga terus meluas dan melibatkan banyak alat berat.

Berdasarkan penelusuran di lapangan, saat ini diduga terdapat sekitar 20 titik aktivitas pertambangan yang beroperasi di kawasan tersebut. Kondisi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat mengenai legalitas aktivitas yang berlangsung.

Bagi Hj. Jamila, yang paling penting bukanlah siapa yang benar atau salah, melainkan bagaimana Desa Marinding tetap menjadi tempat yang aman untuk ditinggali, sungainya tetap terjaga, dan anak-anak kita yang akan datang tidak mewarisi kerusakan lingkungan akibat aktivitas yang tidak terkendali tersebut. (*/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *