Faktadelik.Com-Koalisi Aktivis Muda Katolik Indonesia sambangi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sebagai pucuk tertinggi kepemimpinan Gereja Katolik di Indonesia. Rabu, 7/8/2024.
Disampaikan ke media ini oleh salah satu penggerak Koaliasi Aktivis Muda Katolik Indonesia bahwa, maksud dan tujuan Koalisi Aktivis Muda Indonesia mendatangi KWI dalam rangka untuk mendesak sikap Gereja katolik Indonesia agar tegak lurus mejalani semangat ajaran Gereja Katolik.
Kami aktivis muda katolik pada hari ini sebetulnya menaruh keraguan bahkan kecurigaan terhadap gerakan Gereja Katolik Indonesia. Kami memahami betul bahwa Gereja Katolik memiliki ajaran yang konsen dalam menanggapi isu – isu lingkungan hidup,” ucap Kristinus Jaret pemimpin aksi.
Ia juga mengungkap, Pada hari Pentakosta, 24 Mei 2015, Paus Fransiskus menandatangani teks Laudato Si’. Paus Fransiskus telah mengeluarkan Ensiklik “Laudato Si” sebuah ensiklik apostolik pertama yang membicarakan tentang ibu bumi sebagai rumah bersama.
Ensiklik ini diketahui telah dikaji oleh berbagai macam tokoh dengan berbagai latar belakang baik oleh kelompok Katolik maupun non Katolik. Dalam Ensiklik tersebut, Paus Fransiskus menyebutkan inti ajaran Katolik adalah menekankan kepedulian terhadap makhluk ciptaan Tuhan dan kaum miskin. Ia mendesak manusia bertanggungjawab secara moral untuk merawat lingkungan seperti yang tertulis di kitab Kejadian 2:15 bahwa kita memiliki tugas untuk “menjaga” dan “merawat” Bumi.
Paus juga berdoa untuk diskusi tentang iklim yang diselenggarakan oleh PBB dan menulis dua doa tentang pelestarian lingkungan, dan meminta Tuhan untuk memberikan, “kesembuhan dalam hidup kita, agar kita dapat terus melindungi dan merawat bumi dan menggerakkan hati orang-orang yang hanya mencari keuntungan dan mengorbankan orang-orang miskin dan dunia.
Paus mengatakan setiap aktivitas yang berdampak pada lingkungan juga harus “memperhitungkan hak-hak dasar kaum miskin dan mereka yang kurang mampu.” Dia mengatakan “konsumerisme yang tidak beretika” telah menyebabkan tingkat konsumsi yang menyebabkan memperparah kerusakan lingkungan.
Ia mengajak setiap orang untuk membentuk jaringan sosial dengan tujuan menekan pemimpin politik untuk melakukan perubahan dan membantu mereka yang kehilangan tempat tinggal atau pekerjaan akibat perubahan iklim. Ia juga mendesak agar masyarakat mengubah gaya hidup mereka, termasuk “menggunakan transportasi umum, atau naik mobil bersama-sama, dan menanam pohon serta mematikan lampu-lampu yang tidak digunakan.
” Pada saat ini kami mendengar bahwa Gereja katolik Indonesia menolak tambang. Tapi rupanya tidak serius. Bisa dibilang hanya lip service saja karena tidak terdapat aksi nyata dari Gereja katolik untuk itu. Dilain pihak, Mgr. Sipri Hormat yang merupakan uskup Keuskupan Ruteng, pernah menyampaikan bahwa untuk tambang, Gereja katolik menolak. Tapi untuk geothermal kami berupaya menjadi jembatan komunikasi antara umat, perusahaan dan pemerintah. Jadi artinya pihaknya tidak menolak geothermal,” ujar Kristinus.
Selain itu, ia menyampaikan bahwa, Kedatangannya hari ini di KWI juga membawa catatan yang cukup penting untuk dipertimbangkan, bahwa Gereja tidak boleh berbeda sikap pada tambang dan tambang panas bumi, karena keduanya sama-sama berdampak buruk bagi lingkungan dan masyarakat.
” Dalam memori kami juga masih tercatat dengan baik terkait sikap Yang Mulia Uskup Sipri Hormat pada kasus Wae Sano, Manggarai barat. Pada waktu itu, beliau pernah mengirimkan surat rekomendasi dukungan pembangunan PLTP di Wae Sano di tengah mayoritas umat menolak. Sehingga kami tidak merasa salah jika hari ini kami menaruh curiga terhadap sikap -sikap pemimipin gereja, yang mana menurut kami bisa jadi pemain yang membawa mudarat bagi banyak umat,” ucap Kristinus menambahkan.
Lebih lanjut, kata dia dengan semangat muda, hari ini Koalisi Aktivis Muda Katolik indonesia menyambangi gedung KWI untuk mendesak Gereja katolik agar tegas dalam menjalani ajaran Gereja.
” Sikap DIAM menimbulkan banyak makna. Sikap diam Gereja bisa berarti setuju, bisa berarti tidak tahu, bisa berarti malas tahu, bisa berarti tidak mau tahu, bisa juga berarti Gereja terlibat bermain,” tegasnya.
Ia juga menambahkan ” Gereja tidak dipahami hanya sebatas gedung dan persekutuan berdoa saja. Namun lebih dari itu, bahwa Gereja Katolik juga sebagai persekutuan gerakan sosial sebagaimana ajaran sosial Gereja Katolik. Dalam semangat itulah kami hari ini mendatangi KWI,” tutupnya.
Diketahui, Aksi ini juga mendapat dukungan secara tertulis dari Pater Isfridus, OFM yang juga merupakan seorang Pastor atau rohaniwan Katolik. Berikut dukungan tertulis dari Pater Isfridus, OFM :
Tanggapan terhadap aksi Koalisi Aktivis Muda Katolik Indonesia untuk mendesak Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk mempertegas sikapnya terhadap ancaman industry ekstraktif (Tambang dan geothermal) terhadap ruang hidup masyarakat.
“Saya sangat mendukung aksi ini dengan beberapa pertimbangan:
Pertama, dengan menuntutu KWI untuk mengambil sikap terhadap pelbagai ancaman terhadap hidup umat dan Masyarakat umumnya karena warga atau umat sadar bahwa seruan moral agama (Katolik) masih sangat dibutuhkan dan didengarkan.
Kedua, Gereja mesti tetap sadar bahwa tidak semua hal selalu dilihat dan diperhatikan gereja. Dengan kata lain, masih banyak hal yang luput dari perhatian dan pelayanan Gereja. Dengan seruan ini, Gereja diingatkan untuk memberi perhatian terhadap persoalan kemanusiaan dan ekologi yang mengancam umat atau masyarakat.
Ketiga, dengan aksi ini juga gereja (KWI) selalu diingatkan untuk selalu menjadi “Gereja Yesus Krisus” dan bukan “gereja Pilatus”. Bertolak belakang dengan gereja Pilatus yang mencuci tangan dan tidak mau tahu, Gereja Yesus Kristus adalah Gereja yang menjadi telinga untuk mendengar jeritan domba-domba yang menjerit karena serigal yang mengancam; Gereje Kristus adalah Gereja yang memiliki hati yang selalu berkobar-kobar untuk mengasihi domba-domba yang rapuh, yang bimbang, ragu dan takut menghadapi aneka ancaman; Gereja Yesus Kristus adalah Gereja yang selalu peduli, peka dan berpihak terhadap mereka yang kecil, miskin dan tersingkirkan, kendati karena keberpihakkan mendatangkan ketidaknyamanan bagi gereja.
“Saya lebih menyukai Gereja yang memar, terluka dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan, daripada Gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri. Saya tidak menginginkan Gereja yang berambisi menjadi pusat dan berakhir dengan terperangkap dalam jerat obsesi dan prosedur. Kalau ada suatu yang harus dan pantas menyusahkan kita atau mengusik hati nurani kita, hal itu adalah kenyataan bahwa begitu banyak saudara-saudari kita hidup tanpa kekuatan, terang dan penghiburan yang lahir dari persahabatan dengan Yesus Kristus, tanpa komunitas iman yang mendukung mereka, tanpa makna dan tujuan hidup”. (Paus Franiskus dalam Evangelii Gaudium Artkel 49),”
Dukungan lainnya juga datang dari Emilianus Afandi Lagut sebagai direktur Lembaga Terranusa Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa Lembaga Terranusa Indonesia mendukung gerakan aksi masa yang dilakukan oleh Koalisi Aktivis Muda Katolik Indonesia.
* Press Realese Koalisi Aktivis Muda Katolik Indonesia













