Dinas Kesehatan Majene Gencar Lakukan Percepatan Penurunan Stunting: Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci

Faktadelik.com, Majene – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Majene terus mengintensifkan upaya percepatan penurunan stunting di wilayahnya. , DRA, HJ, Yuliani Laupe, M,A,p , Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Majene, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanganan masalah kesehatan yang berdampak jangka panjang ini. Dalam pernyataannya,  Yuliani Laupe menjelaskan bahwa penanganan stunting memerlukan pendekatan komprehensif, meliputi intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Jum’at, (25 /4/25)

Dinkes Majene sendiri fokus pada intervensi spesifik yang berorientasi pada tindakan nyata di lapangan. “Kami di Dinas Kesehatan fokus pada percepatan penurunan stunting dengan intervensi spesifik. Ini berarti kita langsung melakukan tindakan berdasarkan data yang ada,” ujar Hj Yuliani Laupe

Meskipun belum ada data terbaru untuk tahun 2025 yang menunjukkan perkembangan kasus stunting di Majene, Dinkes memastikan bahwa upaya penanganan akan terus dilakukan secara bersama-sama.

Hj Yuliani Laupe menekankan bahwa penanganan stunting tidak bisa hanya dilakukan oleh satu atau dua Organisasi Perangkat Daerah (OPD). “Stunting tidak bisa ditangani sendiri. Ada beberapa lintas sektor yang harus ikut berkolaborasi dalam kegiatan penanganan stunting ini,” tegasnya.

Kolaborasi lintas sektor ini, lanjut Ibu Yuliani Laupe, akan memperkuat efektivitas intervensi Dinkes terhadap data-data terbaru yang tersedia. Contohnya, penanganan anak yang terindikasi stunting, underweight, dan remaja putri yang membutuhkan suplementasi zat besi (tablet tambah darah). “Kita harus memastikan bahwa tablet tambah darah yang diberikan kepada remaja putri benar-benar dikonsumsi. Ini yang harus terus kita pantau,” jelasnya.

Selain itu, Dinkes juga memberikan perhatian pada pemberian makanan tambahan (PMT). Namun, terdapat kendala terkait keterlambatan penyaluran dana alokasi khusus (DAK) Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) ke puskesmas. “Idealnya, PMT itu dimulai di bulan Januari. Namun, karena dana BOK seringkali terlambat turunnya,

PMT baru bisa disalurkan pada bulan Juli. Ini menjadi salah satu kendala yang kami hadapi,” ungkap  Yuliani Laupe.

Menghadapi tantangan tersebut, Ibu Haja Yuliani menyampaikan harapannya agar komitmen yang kuat dan kolaborasi yang luar biasa antara OPD dan lintas sektor terus dijaga. Ia juga menekankan pentingnya pelaksanaan semua bentuk intervensi, baik yang berasal dari pemerintah pusat maupun daerah, dengan mengedepankan sinergitas. “Jangan ada kata lelah untuk menuntaskan prevalensi stunting yang masih sangat tinggi di Kabupaten Majene,” pintanya.

Yuliani Laupe juga mengingatkan bahwa upaya penanganan stunting sangat penting untuk menciptakan generasi yang unggul, mandiri, dan hebat di masa depan. Generasi inilah yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. “Untuk mendapatkan generasi yang unggul, tentu kita mengharapkan dari anak-anak yang akan nanti menjadi penerus daripada bangsa ini,” pungkasnya.

Dengan komitmen dan kolaborasi yang berkelanjutan, Dinkes Majene optimis dapat menurunkan angka stunting dan mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitas.

LAPORAN  : SERMAN