Banner Media 2026 LUWU UNGUL BERKARAKTER DAN BERBASIS AGRIBISNIS
Ragam  

Waspada ‘Keluarga Baru’ di Rumah, BKKBN Imbau Masyarakat Bijak Gunakan Gawai

Faktadelik.com, Jakarta – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, mengingatkan masyarakat agar bijak menggunakan handphone dan gawai di lingkungan keluarga karena keberadaannya kini telah dianggap sebagai “keluarga baru” yang perlu diatur porsinya agar tidak mengganggu keharmonisan keluarga yang sebenarnya.

“Kehadiran handphone dan gadget sudah dianggap sebagai keluarga baru yang harus diperhatikan porsinya agar tidak membahayakan keluarga yang sebenarnya,” kata Wihaji dalam Podcast Kemendukbangga/BKKBN, dikutip Senin (11/5/2026).

Menurutnya, penggunaan gadget yang tidak terkontrol dapat memengaruhi pola hubungan dalam keluarga, bahkan membuat perangkat digital seolah menjadi bagian dominan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kadang handphone ini jadi orang tua, jadi anggota keluarga, kadang jadi anak, adik, kakak, bahkan mohon maaf dalam tanda petik bisa jadi ‘tuhan kecil’. Tapi kalau tidak hati-hati juga bisa menjadi ‘setan’ dalam tanda petik,” ujarnya.

Wihaji menjelaskan, berdasarkan hasil survei, rata-rata masyarakat Indonesia menggunakan handphone sekitar 7,8 jam per hari. Sementara pada anak dan remaja, durasi penggunaan gadget bahkan bisa mencapai 8 hingga 11 jam setiap hari.

Padahal, lanjutnya, rekomendasi aman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan penggunaan gadget maksimal dua jam per hari untuk anak. “Di luar itu sebenarnya sudah tidak aman. Artinya algoritma otak anak sangat dipengaruhi oleh apa yang ada di dalam gadget,” jelasnya.

Ia menambahkan, sekitar 80,6 persen pengguna internet di Indonesia didominasi anak-anak dan remaja. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian serius bagi para orang tua agar lebih aktif mengawasi penggunaan gadget di rumah.

Wihaji mengajak keluarga membangun komunikasi yang sehat, membatasi penggunaan gadget, serta meningkatkan interaksi langsung agar tumbuh kembang anak tidak terganggu oleh paparan digital berlebihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *