Banner Media 2026 LUWU UNGUL BERKARAKTER DAN BERBASIS AGRIBISNIS

Gelar Upacara Peringatan HUT RI Ke-78, Aliansi Masyarakat Adat Poco Leok Nyatakan Sikap “Merdeka Tanpa Geothermal,”

Faktadelik.Com-Memperingati HUT RI Ke-78 Alliansi Masyarakat Adat Poco Leok  bersama-sama kembali berkumpul dalam rangka melaksanakan upacara bendera yang digelar di depan halaman rumah adat kampung Lungar, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur Kamis, (17/08/2023).

Dari pantauan media ini terlihat sejak pukul 08.00 Wita warga dari berbagai kampung di seluruh wilayah Poco Leok sudah mulai bergegas menuju lokasi upacara, hinga Pukul 09.30, halaman gendang Lungar terlihat sudah padat dihadiri para peserta upacara.

Semuanya terlihat rapi dan anggun mengenakan busana adat daerah. Sekilas, halaman gendang Lungar menjadi panggung pertunjukan busana daerah Manggarai.

Berbeda dari biasanya upacara HUT RI kali ini  dihadiri oleh ratusan solidaritas masyarakat Poco Leok yang tetap berkomitmen menolak eksploitasi pembangunan Geothermal di tanah Poco Leok.

Terlihat ada 10 gendang ( rumah adat ) yang hadir pada upacara tersebut yakni, gendang Mucu, Mocok, Mori, Nderu, Ncamar, Cako, Rebak, Tere, Jong dan Lungar.Tema yang diangkat pada upacara peringatan HUT RI Ke-78 tersebut adalah “Merdeka Tanpa Geothermal,” yang artinya selain memperingati kemerdekaan, upacara tersebut juga menjadi upacara simbolik Aliansi Masyarakat Adat Poco Leok  sebagai bentuk penolakan keras rencana pembangunan Geothermal di tanah adat mereka.

Sekitar pukul 10.00 WITA, upacara bendera dimulai, para petugas upacara sudah bersiap-siap menjalankan tugasnya masing-masing. Warga juga sudah bersiap-siap dan membentuk lima barisan dan masing-masing barisan didampingi para petugas.

Para petugas upacara bendera tersebut adalah warga Poco Leok, yang juga dipilih dari berbagai kalangan tua dan muda, Laki-laki maupun perempuan.

Upacara bendera berlangsung khidmat, meriah dan eksotik, dengan nuansa khas budaya Manggarai. Semua peserta upacara mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan aktif. Para tua gendang dan tetua adat Poco Leok juga turut hadir pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-78 tersebut.

Hingga Beberapa menit upacara berlansung sudah terlihat sang Merah Putih berkibar megah di halaman kampung Lungar, yang disaksikan seluruh peserta upacara, juga diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Antusiasme masyarakat adat sangat terasa dalam seluruh rangkaian upacara itu, sejak awal hingga akhir upacara.

Pembina upacara pada peringatan HUT RI Ke-78 tersebut adalah Joniardus Junar, warga Poco Leok. Dalam sambutannya Joni dengan sangat lantang dan gagah, berpidato sesuai dengan tema upacara yaitu “merdeka tanpa geothermal,” Joniardus dalam pidatonya lebih banyak menyentil soal pentingnya posisi dan peran kaum tani dalam mempertahankan keberadaan bangsa Indonesia.

 

“Eksploitasi geothermal di Poco Leok oleh perusahaan dan pemerintah adalah sebuah penjajahan bentuk baru di negeri ini, terutama di wilayah Poco Leok.,”

Lanjutnya, “Jika kita bersatu, itu akan menjadi kekuatan besar untuk melawan penjajah yang saat ini mencoba menghancurkan bumi Poco Leok yang telah kita jaga sebagai peninggalan leluhur kita.” Tegas joniardus pada pidatonya.

Joniardus juga mengajak para peserta upacara untuk merenungkan jasa para pahlawan dan pejuang bangsa Indonesia yang telah bersusah payah merebut dan mempertahankan tanah airnya dari penguasaan asing. Perjuangan para pahlawan menjadi cerminan bagi perjuangan aliansi masyarakat adat Poco Leok dalam mempertahankan wilayah mereka dari ancaman ekspansi proyek geothermal saat ini.

Tidak lupa, diakhir sambutannya,Joniardus kembali membacakan enam tuntutan warga Pocoleok atas rencana eksploitasi geothermal di Poco Leok yang diikuti oleh semua peserta upacara Keenam tuntutan yakni:
1. Cabut SK Bupati Manggarai tentang penetapan WKP Ulumbu di Poco Leok
2. Hentikan aktivitas PLN dan aparat keamanan di Poco Leok
3. Hentikan intimidasi dan politik pecah belah atas masyarakat Poco Leok
4. Mendesak bank KFW Jerman untuk menghentikan pendanaan proyek geothermal Poco Leok
5. Cabut kepmen ESDM tentang penetapan Flores sebagai pulau geothermal
6. Hentikan upaya sertifikasi tanah lingko di wilayah Poco Leok oleh ATR/BPN.

Untuk diketahui upacara bendera peringatan HUT RI Ke-78 Aliansi Masyarakat Adat Poco Leok tersebut  ditutup dengan mendeklarasikan pernyataan sikap terkait rencana eksploitasi geothermal di Poco Leok.

Pernyataan sikap warga juga sejalan dengan tema “Merdeka tanpa Geothermal,” bahwasannya kemerdekaan itu sejatinya adalah mampu menentukan nasib hidup sendiri, berdikari secara budaya, politik dan ekonomi tanpa perlu intervensi pihak lain.

Menurut mereka geothermal adalah upaya intervensi, penguasaan dan eksploitasi atas ruang hidup warga masyarakat Poco Leok, Oleh karena itu harus dilawan.

Kebersamaan Aliansi Masyarakat Adat Poco Leok kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan acara santap siang bersama, sebagai bukti soliditas dan persatuan seluruh masyarakat adat Poco Leok dalam menolak dan menentang keras rencana pengembangan geothermal di Poco Leok.

(zys)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *