FAKTADELIK.COM, WAJO – Kondisi Jembatan Gantung Ceppie di Desa Benteng Lompoe, Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo, yang kian memprihatinkan menjadi Perhatian dalam Reses Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026/2027 anggota DPRD Wajo, Rahman Rahim, Selasa (29/10/2026).
Dalam reses yang dipusatkan di Dusun Ceppie Desa Benteng lompoe tersebut, warga mendesak agar jembatan yang menjadi akses vital masyarakat itu segera diperbaiki dan dibangun menjadi jembatan permanen demi menjamin keselamatan pengguna.
Kegiatan tersebut turut dihadiri kepala puskesmas sabbangparu, Fadel perwakilan BPJS Ketenagakerjaan, tokoh adat, tokoh pemuda, Babinsa Kodim 1406, serta ratusan warga.
Jembatan Gantung Ceppie merupakan akses penghubung Antara Dusun Pallae Dengan dengan Desa Benteng lompo sekaligus jalur warga menuju ibukota kabupaten.
Namun, kondisi jembatan saat ini dinilai membahayakan. Sejumlah bagian lantai sudah patah dan bolong kabel sling utama berkarat, serta tiang penyangga terlihat miring. Kerusakan tersebut disebut berkaitan dengan dampak banjir Sungai Walanae–Cenranae beberapa tahun lalu.
Kondisi itu menyulitkan aktivitas masyarakat, khususnya Warga yang harus mengangkut hasil panen ke kota
Salah satu warga yg enggan disebut namanya menyampaikan bahwa keluhan kami hanya jembatan tersebut
“ Pak Dewan. Anak-anak sekolah setiap pagi juga ketakutan saat melintas. Kami memohon agar jembatan gantung ini dibangun menjadi jembatan permanen,” ungkap seorang warga Dusun Ceppie.
Kerusakan jembatan bukan sekadar persoalan infrastruktur. Akses yang tidak memadai berpotensi menghambat mobilitas warga,
kegiatan pendidikan, serta distribusi hasil pertanian dan perikanan.
Menanggapi keluhan warga, Rahman Rahim Menyampaikan bahwa Ia menilai kerusakan yang ada membutuhkan penanganan serius, bukan sekadar perbaikan ringan.
“Ini bukan lagi perbaikan ringan, tetapi harus dibangun ulang. Jembatan gantung ini sudah tidak layak dan sangat membahayakan keselamatan warga. Saya catat sebagai aspirasi prioritas,” tegas Rahman Rahim.
Ia menyatakan akan mengawal aspirasi tersebut melalui koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Wajo, termasuk mendorong penyusunan perencanaan teknis atau Detail Engineering Design (DED).
Selain itu, usulan tersebut akan didorong ke Dinas PUPR Provinsi Sulawesi Selatan dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, dengan mempertimbangkan keterkaitan aliran sungai dan kewenangan pengelolaan infrastruktur terkait.
“Kasihan petani Benteng Lompoe. Hasil panen melimpah, tetapi aksesnya membahayakan. Insya Allah, saya kawal sampai tuntas. Keselamatan warga nomor satu,” ujarnya.
Aspirasi warga Dusun Ceppie kini membutuhkan tindak lanjut konkret dari pemerintah dan instansi teknis terkait. Kajian kondisi jembatan, kejelasan kewenangan, perencanaan pembangunan, hingga penganggaran menjadi tahapan penting agar usulan pembangunan jembatan permanen dapat direalisasikan.
Bagi masyarakat setempat, jembatan tersebut bukan sekadar penghubung antardusun. Keberadaannya menjadi penopang aktivitas harian, akses pendidikan, serta kelancaran pengangkutan hasil pertanian dan perikanan.
Warga berharap aspirasi yang disampaikan dalam reses tersebut tidak berhenti sebagai catatan, tetapi berlanjut menjadi langkah nyata untuk menghadirkan akses yang aman dan layak.
HARDIWAN