FAKTADELIK.COM, MAJENE, — Muhammad Al Kausar ilyas siswa SMAN 1 Pamboang yang dikeluarkan disekolah membantah kalau terlibat atas obat terlarang yang ditemukan dipegan olehnya
Kausar mengatakan dikasih keluar disekolah karena pihak sekolah mengira saya pemakai dan pengedar obat terlarang.
“Saya betul – betul tidak terlibat kebutuhan obat itu saya pegang, sudah sudah cerita sama pihak sekolah tapi tidak dipercaya,” ungkapnya, Senin 17 Oktober.
Kausar menceritakan, sekitar jam istirahat kuliat sepupu ku jalan ke kelas 10 truss tidak lama ku ikuti, pas sampe ka di kelas 10 ku tanya itu sepupu ku apa mubikin di sini terus na bilang itu sepupu ku ada nacari kaleng.
“Ini saya pak nda ku taupi kaleng bagaimana apa isinya intinya itu hari pak cuman ku bantu sepupu ku cari itu kaleng sesudah itu na bilang sepupu ku di cewek pas ku tanya itu cewe na bilang lagi di ketua kelasnya itu kaleng kubilang mi sama dia ambilkan dulu sepupu ku itu kaleng pas sudah di ambil itu kaleng dari ketua kelasnya kebetulan posisi saya yang paling depan pak jadi otomatis saya yang di kasih pak sama itu cewe pas na kasih ma itu cewe blom paka pindah – pindah langsung ka balik badan terus ku kasih itu sepupu ku kaleng sesudah itu kembali ma di kelas ku nda ku taumi apa, itumi bingunka kenapa nakari terlibat padahal tidak kutah apa itu isinya kaleng,” ungkapnya.
Saat dicoba dikonfirmasi Kepala SMAN 1 Pamboang tidak berada di sekolah, menurut Satpan lagi sakit. “Pak Kepala sekolah tidak ada beliau lagi sakit,” ungkapnya.
Sementara Kepala Disdikpora Majene Mitthar Thala Ali mengatakan pihaknya akan turun ke SMAN 1 Pamboang untuk meminta kejelasan kejadian tersebut. “Jadi. saya belum bisa komentar banyak terkait kasus ini,” ungkapnya.
Tetapi saya mau anak ini terselamatkan kalau melakukan kesalahan bisa terselamatkan tidak putus sekolah. “Kalau tidak bisa sekolah disitu kita Carikan sekolah yang bisa menampung supaya anak itu bisa tetap memperoleh pendidikan,” pungkasnya.
Laporan : Syahril














Dengan adanya kasus ini, saya sangat prihatin dengan dunia pendidikan saat ini. Jangan hanya karna oknum tertentu yg tidak bertanggung jawab anak tersebut harus kehilangan masa depan, harusnya dinas pendidikan bisa turun tangan langsung untuk meninjau ke lokasi agar kiranya kasus seperti ini tidak terulang lagi ke depannya, apalagi ini sudah ada korban, seorang anak remaja yg harus putus sekolah krn di fitnah oleh sekolah. Mohon para guru dan pengurus sekolah lebih bijak lagi dalam mengambil keputusan.