Faktadelik.com, Enrekang – Selasa 29 April 2025, Bahasa Daerah Massenrempulu adalah salah satu bahasa yang digunakan oleh masyarakat di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Bahasa ini memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya dan kearifan lokal yang ada di daerah tersebut. Oleh karena itu, pengajaran Bahasa Daerah Massenrempulu di sekolah-sekolah, khususnya di UPT SMA Negeri 2 Enrekang, menjadi sangat penting sebagai bagian dari muatan lokal (mulok).
Menurut Sukayono, Supervisi terhadap guru mulok mata pelajaran Bahasa Daerah Massenrempulu bertujuan untuk:
1. Meningkatkan Kualitas Pengajaran : Memastikan bahwa metode dan materi pengajaran yang digunakan efektif dan relevan.
2. Pelestarian Budaya : Memastikan bahwa nilai-nilai budaya dan kearifan lokal tetap diajarkan dan dipahami oleh para siswa.
3. Pengembangan Profesional Guru : Memberikan umpan balik dan dukungan kepada para guru untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam mengajar Bahasa Daerah Massenrempulu.
Supervisi dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:
1. Observasi Kelas : Mengamati proses pengajaran yang dilakukan oleh guru untuk menilai metode dan interaksi dengan siswa.
2. Wawancara dan Diskusi : Melakukan sesi tanya jawab dengan guru untuk memahami tantangan yang dihadapi dan mendiskusikan strategi peningkatan.
3. Evaluasi dan Pelaporan : Menyusun laporan hasil supervisi dan memberikan rekomendasi bagi peningkatan pengajaran.
Mengajarkan Bahasa Daerah Massenrempulu memiliki berbagai manfaat, antara lain:
– Pelestarian Bahasa : Membantu mencegah kepunahan bahasa daerah dan menjaga keberagaman bahasa di Indonesia.
– Penguatan Identitas Budaya : Memperkuat identitas budaya siswa dan meningkatkan rasa bangga terhadap warisan budaya lokal.
– Pengembangan Kognitif : Memperkaya kemampuan linguistik siswa dan mengasah kemampuan berpikir kritis.
Supervisi guru mulok Bahasa Daerah Massenrempulu di UPT SMA Negeri 2 Enrekang merupakan langkah strategis untuk memastikan pengajaran yang berkualitas dan relevan. Dengan demikian, pelestarian budaya dan kearifan lokal dapat terus terjaga, sekaligus memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kompetensi siswa. Upaya ini juga mendukung visi pendidikan yang lebih inklusif dan berdaya saing, dengan tetap berakar pada nilai-nilai lokal, ungkap Sukayono. (*)













