Makassar, Faktadelik.Com-Menyambut Hari Tani Nasional, Aliansi Perjuangan Mahasiswa Indonesia kembali menggelar aksi unjuk rasa di Jln Sultan Allaudin, Kota Makassar sabtu, (23/9/2023) sore.
Diketahui, aksi tersebut merupakan aksi prakondisi APMI, yang tergabung dari tiga lembaga organisasi yaitu Gerakan Revolusi Demokratik ( GRD) Gerakan Perjuangan Aktivis Mahasiswa ( GPAM) dan Komite Rakyat Demokratik ( KOMRAD).
Massa memprotes terhadap kebijakan pemerintah atas kondisi petani dan kondisi demokrasi saat ini di Indonesia. Massa pun menahan mobil dan membakar ban bekas sambil menyampaikan orasinya yang bertuntutan ” Wujudkan Reforma Agraria Sejati dan Demokrasi.”
Selain itu, massa juga protes atas kebijakan Presiden Joko Widodo yang tidak lagi sejalan dengan UUD 1945.
Jimi Saputra, selaku jendral lapangan aksi tersebut saat diwawancarai mengatakan, petani yang ada di Indonesia masih belum mendapatkan kesejahteraan, akibat tidak ada regulasi yang menjawab perjuangan kaum tani beserta rakyat Indonesia untuk mewujudkan reforma agraria sejati.
Menurutnya, pemerintah harus berani membuat kebijakan yang mengedepankan kepentingan petani, sebab petani sangat besar sumbangsinya terhadap bangsa Indonesia.
“Kami dari Aliansi Perjuangan Mahasiswa Indonesia mendesak pemerintah agar setiap kebijakan yang diambil harus dikaji secara matang, dan tidak mengancam keberlangsungan hidup rakyat. Seperti yang terjadi di Rempang Batam, kami menilai itu adalah kebijakan yang sepihak,” ujarnya.
“Negara harusnya lebih condong berpihak kepada rakyat bukan malainkan sebaliknya yang bercondong ke pengusaha,” tambahnya.
Lebih lanjut, Mereka juga mengecam kekerasan dilakukan aparat gabungan yang terdiri dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Ditpam Badan Pengusahaan, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terhadap warga Pulau Rempang, yang terjadi di Jembatan 4 Barelang, Kota Batam, Kepulauan Riau.
Menurutnya, konflik yang terjadi di Pulau Rempang salah satu penyebabnya adalah program dari pemerintah itu sendiri.
“Jadi kalau kita lihat, seluruh peristiwa ini disebabkan karena ambisi Presiden.Yang digusur bukan sekedar lahan warga Rempang, tapi kultur mereka digusur, kebatinan mereka juga ikut digusur.” Tandas Jimi.
“Untuk menyelesaikan konflik ini, kami meminta Presiden harus batalkan proyek di Pulau Rempang,Kota Batam, Kepulauan Riau,” Pungkasnya.

Dari pantuan media ini, sebelum membubarkan diri massa aksi Aliansi Mahasiswa Perjuangan Indonesia terlihat bergeser ke Pertigaan Hertasning Petterani Makassar melanjutkan unrasnya hingga pukul 19.00.

Mereka mengajak seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk sama-sama melakukan aksi unjuk rasa pada tanggal 24 September memperingati Hari Tani Nasional.
Berikut tuntutan yang disampaikan Aliansi Perjuangan Mahasiswa Indonesia
1. Wujudkan Reformasi Agraria Sejati dan Demokrasi,
2. Tolak Omnibus Law
3. Wujudkan Pendidikan Gratis
4. Tolak Kenaikan BBM
5. Tolak Pengahapusan Pertalite
6. Hentikan Perampasan Lahan Masyarakat Rempang ( Batam) dan Hentikan Kriminalisasi Terhadap Demonstran.
(Azis)














