Banner Media 2026 LUWU UNGUL BERKARAKTER DAN BERBASIS AGRIBISNIS

Tim Peneliti PKM-RE UNHAS Ungkap Inovasi Terobosan untuk Terapi Anemia Ibu Hamil Guna Mengurangi Angka Kematian Ibu dan Anak

FAKTADELIK. COM – Perjalanan penelitian yang dilakukan oleh Tim PKM-RE Universitas Hasanuddin menunjukkan perkembangan signifikan dari tahap laboratorium hingga memiliki potensi menyelamatkan ibu hamil dari anemia defisiensi besi. Tim SIMIC, yang merupakan delegasi dari Universitas Hasanuddin dalam Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE), mengembangkan sebuah inovasi dalam sistem penghantaran obat ferrous sulfate melalui Swellable Intestinal Microarray Capsule (SIMIC) yang dirancang khusus untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak akibat anemia defisiensi besi pada ibu hamil.

Dipimpin oleh Khusnul Humayatul Jannah S (Farmasi 2022), tim ini juga terdiri dari Ainun Mustika Maharani (Farmasi 2022), Siti Sri Rejeki Nur Rahma (Farmasi 2022), Mir’atul Ginnayah (Farmasi 2023), dan Waode Ainun Anggraini (Kedokteran 2022). Selama tiga bulan penuh, tim melakukan riset di Laboratorium Farmasetika dan Biofarmasi Universitas Hasanuddin dengan menggunakan metode true-experimental yang sangat sistematis.

 

Inspirasi penelitian ini berawal dari pengalaman nyata Waode Ainun Anggraini yang pernah mendampingi seorang ibu hamil dengan dua anak yang tengah mengandung anak ketiga. Ibu tersebut diketahui mengalami anemia defisiensi besi dan mengonsumsi tablet tambah darah dari puskesmas. Namun ada kesulitan dalam pemakaian obat tersebut, karena jumlahnya terlalu banyak dan menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, dan konstipasi yang memperberat kondisi ibu.

Anemia defisiensi besi sendiri merupakan faktor utama kematian ibu dan bayi di Indonesia. Data terbaru Kementerian Kesehatan RI memperlihatkan peningkatan prevalensi anemia pada ibu hamil dari 25,7% di tahun 2022 menjadi 27,7% di tahun 2023. Hal ini membuktikan bahwa terapi konvensional yang ada belum mampu mengatasi masalah secara efektif dan optimal. Dampak dari anemia ini tidak hanya menyebabkan kematian pada ibu, tetapi juga berkontribusi pada kematian janin, kematian perinatal, serta peningkatan risiko stunting pada anak-anak. Oleh sebab itu, tim peneliti Universitas Hasanuddin berinisiatif mengembangkan SIMIC-FS.

SIMIC-FS adalah kapsul inovatif yang terdiri dari tiga bagian utama: swellable intestinal agent (agen usus yang mengembang), implantable bilayer microarray (lapisan ganda microneedle yang bisa ditanam), dan lapisan kapsul berbahan Eudragit L100 yang hanya larut pada pH usus. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan bioavailabilitas ferrous sulfate dengan melepaskan obat secara bertahap, dikendalikan oleh gerakan peristaltik usus, sehingga mengurangi frekuensi konsumsi obat yang biasanya mencapai 90 tablet selama masa kehamilan. Frekuensi konsumsi tinggi ini dikenal sebagai salah satu penyebab rendahnya kepatuhan pasien terhadap terapi ferrous sulfate konvensional.

Ketua tim, Khusnul Humayatul Jannah S., menjelaskan bahwa teknologi implant jarum kecil dan tajam yang disebut Implantable Bilayer ini memungkinkan pelepasan obat secara berkelanjutan (sustained release). Dengan cara ini, kebutuhan penggunaan obat berkurang dan penyerapan zat besi dalam tubuh menjadi lebih optimal.

Dari tahap awal yang sederhana hingga menjadi sebuah inovasi yang menggembirakan, perjalanan riset ini merupakan bukti komitmen dan dedikasi ilmiah tim untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara nyata. Kelima anggota tim berjuang bersama untuk menyelesaikan riset hingga tahap akhir dengan harapan inovasi ini bisa menjadi dasar teori dan referensi penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan kesehatan. Mereka berharap SIMIC-FS dapat menjadi solusi penghantaran obat yang efektif bagi penderita anemia defisiensi besi, khususnya ibu hamil, dan mampu menurunkan angka kematian ibu dan anak akibat anemia.

Penulis : Tim PKM-RE Universitas Hasanuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *