Banner Media 2026 LUWU UNGUL BERKARAKTER DAN BERBASIS AGRIBISNIS
Berita  

Ditolak Layani Angkut Sampah, Kinerja Petugas Kebersihan Tamalate Disorot

FAKTADELIK.COM, MAKASAR – Seorang pedagang ayam musiman di Jalan Kumala Raya, Kelurahan Bungaya, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, mengeluhkan dugaan perlakuan diskriminatif yang dialaminya saat berjualan menjelang Iduladha 1447 Hijriah.

Pedagang bernama Hengky mengaku kecewa setelah sampah dari aktivitas jualannya disebut tidak lagi diangkut oleh petugas kebersihan. Ia menduga ada larangan dari pihak tertentu di wilayah kelurahan hingga membuat dirinya merasa dipersulit mencari nafkah.

Keluhan itu disampaikan Hengky usai didatangi aparat kelurahan bersama personel Satpol PP beberapa hari sebelum Lebaran. Menurutnya, saat itu dirinya diminta memindahkan aktivitas jualannya ke bagian dalam lokasi.

“Saya cuma jualan musiman kalau mau Lebaran. Setahun cuma dua kali. Kami ini cuma cari nafkah untuk keluarga,” kata Hengky kepada wartawan, Rabu (27/5/2026).

Ia mengaku sempat mengikuti arahan petugas demi menghindari persoalan. Namun setelah itu, muncul masalah baru terkait pengangkutan sampah yang disebut tidak lagi dilayani.

“Saya bingung mau buang di mana kalau sampah tidak diambil. Padahal saya selalu jaga kebersihan. Saya gabungkan sampah supaya bersih dan gampang diangkut,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan awak media di lokasi, tampak sejumlah karung berisi sampah sisa aktivitas penjualan ayam masih menumpuk di sekitar area jualannya.

Sampah tersebut tampak ditumpuk di pinggir rumah lokasi jualan dan disebut belum diangkut selama beberapa hari terakhir, sehingga menimbulkan bau menyengat di sekitar area tersebut.

Hengky mengaku sempat meminta bantuan pengemudi bentor untuk mengangkut sampah tersebut. Namun, menurutnya, permintaan itu ditolak karena sopir bentor tidak mengetahui lokasi pembuangan yang diperbolehkan.

“Saya sempat panggil bentor untuk bantu buang, tapi dia bilang tidak tahu mau dibuang ke mana. Takut juga kalau salah buang nanti bermasalah,” kata Hengky.

Hengky juga mempertanyakan alasan yang disampaikan kepadanya terkait bau dari limbah ayam. Menurut dia, selama ini dirinya berusaha menjaga kebersihan lingkungan dan menggunakan berbagai cara agar tidak mengganggu warga sekitar.

“Kalau memang bau, saya tangani. Tapi kalau sampah tidak diangkut, bagaimana caranya saya bersihkan?” katanya.

Ia mengaku heran karena selama bertahun-tahun berjualan ayam musiman, baru kali ini mengalami persoalan tersebut. Hengky merasa diperlakukan berbeda dibanding pedagang lain yang masih bisa berjualan di luar.

“Kalau orang lain bisa jual di luar, kenapa saya disuruh masuk? Ini yang saya bilang jangan sampai ada diskriminasi,” tegasnya.

Atas persoalan itu, Hengky mengaku berencana mengadukan masalah tersebut kepada Wali Kota Makassar dan DPRD Kota Makassar.

Ia berharap pemerintah kota turun tangan agar ada solusi yang manusiawi bagi pedagang kecil musiman.

“Kami rakyat kecil cuma mau hidup dan merayakan Lebaran juga. Jangan sampai aturan dibuat tapi tidak manusiawi,” ujarnya.

Menanggapi keluhan pedagang ayam musiman di Jalan Kumala Raya, Camat Tamalate Aril Syahbani lebih dulu mempertanyakan status pembayaran retribusi sampah oleh pedagang tersebut.

Ia kemudian mengaku akan menelusuri alasan sampah tidak diangkut oleh petugas kebersihan.

“Dia bayar retribusi atau tidak? Nanti saya coba cek apa alasannya sehingga sampahnya tidak diangkut,” ujar Aril Syahbani singkat saat dikonfirmasi. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *