Banner Media 2026 LUWU UNGUL BERKARAKTER DAN BERBASIS AGRIBISNIS
Ragam  

Haikal, Anak Mapilli yang Membuktikan Kemuliaan di Balik Pekerjaannya

FAKTADELIK.COM, POLMAN  – Di bawah terik matahari Kecamatan Mapilli, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, seorang remaja berusia 14 tahun tampak melangkah ringan mendorong gerobak penuh sayuran segar. Haikal, seorang pelajar kelas III SMP, telah menjadikan jalanan di kampungnya sebagai saksi keteguhan hatinya membantu keluarga.

Setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, Haikal mengawali harinya dengan menjajakan sayuran keliling. Tangan kecilnya yang cekatan menyusun dagangan, dan langkahnya yang penuh semangat menyusuri jalan sejauh ratusan meter. Ia kerap mendapat cemoohan dari teman-temannya, tetapi semua itu tidak membuatnya gentar.

“Awalnya sedih, tapi saya anggap itu bagian dari perjuangan,” ujar Haikal dengan mata yang berbinar penuh keikhlasan.

Dorongan Kasih Sayang Seorang Anak
Semua berawal ketika ibunya, Husni (43), jatuh sakit. Rasa iba yang mendalam mendorong Haikal untuk turun tangan meringankan beban keluarganya. “Dia sendiri yang bilang mau bantu jualan sayur,” kenang Husni dengan suara serak penuh haru.

Tidak hanya membantu ibunya, Haikal juga sering menemani sang ayah, Abdul Latih (60), seorang pengemudi becak motor yang kerap bekerja hingga larut malam. Ketika libur sekolah, ia menjadi buruh angkut di pasar, membantu para pedagang mengangkut barang dagangan.

“Ayah sering tidak pulang karena sibuk cari nafkah. Jadi, saya suka menyusulnya untuk bantu,” tutur Haikal dengan nada lembut, menunjukkan kepedulian yang melampaui usianya.

Sehari-Hari Penuh Pengorbanan
Selepas sekolah, Haikal tidak menghabiskan waktu dengan bermain seperti anak seusianya. Ia memilih beristirahat sejenak sebelum kembali membantu ibunya mempersiapkan sayur-sayuran yang akan dijual esok hari. Aktivitas di pasar dan masjid menjadi kesehariannya.

“Dia anak yang rajin, sering ke masjid juga,” kata Husni sambil menyeka air mata.

Kendati hidup sederhana, Haikal tak pernah merasa malu. Sebaliknya, ia bangga karena dapat membantu orang tua dan menjadi bagian dari perjuangan keluarga.

“Saya justru sedih kalau melihat mama dan bapak kelelahan. Jadi, sebisa mungkin saya bantu,” katanya dengan senyum tulus yang memancarkan kedewasaan.

Cita-Cita Besar di Balik Kesederhanaan
Bagi Haikal, membantu keluarga bukanlah penghalang untuk bermimpi. Ia bercita-cita menjadi seorang polisi, profesi yang ia pandang sebagai simbol pengabdian kepada masyarakat.

“Semoga saya bisa menjadi kebanggaan keluarga, membalas semua perjuangan mereka,” ucap Haikal dengan nada penuh optimisme.

Kisah Haikal bukan sekadar cerita seorang anak yang membantu orang tua. Ini adalah potret ketulusan dan kerja keras, pelajaran bagi kita semua bahwa cinta keluarga mampu mengalahkan rasa malu dan gengsi. Haikal, dengan segala keterbatasannya, telah menunjukkan bahwa dalam setiap langkah kecilnya, ada kebesaran hati yang memuliakan dirinya dan keluarganya.(ojack)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *