Banner Media 2026 LUWU UNGUL BERKARAKTER DAN BERBASIS AGRIBISNIS
Berita  

Tim MENENNUNGENG PPK ORMAWA UKM KPI Unhas Kenalkan Teknologi AWD Berbasis IoT untuk Dukung Pertanian Berkelanjutan di Bone

FAKTADELIK.COM, BONE – Pengelolaan air yang efisien menjadi salah satu tantangan utama dalam budidaya padi, terutama di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim dan kebutuhan akan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Tim MENENNUNGENG Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA) Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (UKM KPI) Universitas Hasanuddin mengimplementasikan teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) berbasis Internet of Things (IoT) di Desa Kajaolaliddong, Kabupaten Bone. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan inovasi pertanian yang mengombinasikan efisiensi irigasi dengan pemanfaatan teknologi digital.

AWD merupakan metode pengelolaan irigasi yang dilakukan dengan mengatur siklus penggenangan dan pengeringan lahan secara berkala selama masa pertumbuhan padi. Berbeda dengan praktik budidaya konvensional yang mempertahankan lahan tetap tergenang, metode ini memungkinkan tanah memperoleh suplai oksigen pada fase tertentu. Kondisi tersebut membantu mengurangi aktivitas mikroorganisme anaerob penghasil gas metana (CH₄), sehingga emisi gas rumah kaca dari lahan sawah dapat ditekan tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman.

Selain berkontribusi terhadap pengurangan emisi, penerapan AWD juga terbukti meningkatkan efisiensi penggunaan air. Dengan pengelolaan irigasi yang lebih terukur, kebutuhan air dapat berkurang sekitar 15 hingga 30 persen dibandingkan sistem pengairan konvensional. Efisiensi tersebut tidak hanya membantu menghemat sumber daya air, tetapi juga berpotensi menekan biaya operasional petani, mengurangi kehilangan unsur hara akibat limpasan air, serta mendukung pengelolaan jerami yang lebih ramah lingkungan.

Sejumlah negara di Asia, termasuk Indonesia, Filipina, dan Vietnam, telah mengembangkan penerapan AWD sebagai bagian dari strategi pertanian adaptif terhadap perubahan iklim. Pengakuan terhadap manfaat metode ini juga semakin luas. Pada 2025, teknologi AWD di Filipina disetujui dalam skema Japan’s Joint Crediting Mechanism (JCM) sehingga praktik budidayanya dapat dihitung sebagai bagian dari upaya penurunan emisi karbon. Selain itu, AWD telah diakomodasi dalam berbagai standar internasional, seperti Verra (VCS), Gold Standard, dan Thailand Voluntary Emission Reduction Program (T-VER), yang membuka peluang pemanfaatannya dalam mekanisme kredit karbon.

Dalam program PPK ORMAWA, Tim MENENNUNGENG mengembangkan penerapan AWD dengan dukungan teknologi IoT. Sistem ini menggunakan sensor untuk memantau kondisi lahan dan tinggi muka air secara real-time, sehingga petani memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai waktu yang tepat untuk melakukan pengairan maupun pengeringan sawah. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketepatan pengelolaan irigasi sekaligus mengurangi pemborosan penggunaan air.

Implementasi program tidak hanya berfokus pada penyediaan perangkat teknologi, tetapi juga disertai kegiatan edukasi dan pendampingan kepada petani. Tim memberikan pelatihan mengenai prinsip kerja AWD, penggunaan perangkat IoT, serta pentingnya pengelolaan sumber daya air sebagai bagian dari praktik pertanian berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, petani diharapkan mampu memahami manfaat teknologi sekaligus mengadopsinya secara mandiri dalam kegiatan budidaya.

Ke depan, penerapan teknologi irigasi hemat air seperti AWD diperkirakan akan semakin berkembang seiring meningkatnya perhatian terhadap pertanian rendah emisi. Selain mendukung efisiensi produksi dan konservasi sumber daya air, teknologi ini juga berpotensi memberikan nilai tambah melalui peluang pengembangan skema kredit karbon yang terus mendapat perhatian di tingkat global.

Melalui implementasi AWD berbasis IoT di Desa Kajaolaliddong, Tim MENENNUNGENG PPK ORMAWA UKM KPI Universitas Hasanuddin menunjukkan bahwa inovasi yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat diterapkan secara nyata untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Kolaborasi antara mahasiswa dan petani diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong transformasi menuju sistem pertanian yang lebih modern, efisien, adaptif terhadap perubahan iklim, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *