Faktadelik.com, Garut – Seperti sudah menjadi suatu tradisi atau budaya di Kabupaten Garut ini, saat tahun ajaran baru menjelang tiba di mana Penerima Peserta Didik Baru (PPDB) ini para orang tua siswa di wajibkan harus merogoh kantong dalam dalam, karena dalam PPDB tahunan selalu di hantui dengan pengeluaran yang melambung tinggi.
Salah satu nya yakni pengeluaran oleh para wali murid untuk mendaptarkan anak nya sekolah, karena Pemerintah sendiri mewajibkan wajib belajar dan tidak ada alasan untuk tidak sekolah, namun dalam hal ini salah satunya seperti biyaya kenaikan kelas (Samen) selalu menjadi momok para wali murid di sekolah karena terus di dasari administrasi wajija adapun tentang lain nya sampai pembelian sampul rapot, sampul ijasah, baju olahraga, dan segaram batik meski di lakukan secara personal.
Seperti yang sudah terjadi di Wilayah Kecamatan Sukaresmi kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat ini, dimana telah di keluhkan para wali murid di sejumlah sekolah dasar negri (SDN) tentang wajib nya membeli sampul rapot meski tidak menunjang dalam karakter anak didik.
Sejumlah lembaga sekolah tersebut yakni, SDN 2 Sukajaya, SDN 2 sukamulya dan SDN 2 Cintadamai yang di duga telah mengadakan pembelian tentang sampul rapot dengan nominal Rp.35000 (Tiga Puluh Lima rebu rupiah) sampai 50.000 (Lima puluh ribu).
Adapun tentang ini, Ridwan yang menjabat sebagai kepala sekolah (Kepsek) di SDN 2 Padamukti, Kecamatan Sukaresmi saat di Konfirmasi lewat WhatsApp, “untuk sampul dan poto siswa ini tidak terakomodir dari penggunaan dana bos”, tandas Ridwan, Kamis (11-07-2024)
Di tambah kan Tatang yang menjabat sebagai Kepsek SDN 2 Sukamulnya saat di konfirmasi juga menjelaskan lewat pesan WhatsApp , “untuk sampul rapot dan ijasah itu tidak bisa di kaper sama dana bos, karena tidak ada juklak juknis nya , dana bos untuk mengkaper sampul rapot, nah justru kamipun dari pihak sekola membantu untuk pengadaan sampul rapot dan sampul ijasah, kalau wali murid membeli sampul tersebut, kan jadi nya bermanfaat biar rapot dan ijasah engga bakal kotor, tandasanya, Kamis (11-07-2024).
Salah satu orang tua murid yang enggan disebut nama nya mengeluhkan tentang terjadinya pembelian sampul raport untuk kedua anak nya, “saya kan anak nya dua kebeneran memang sekola di SDN 2 Cintadamai, ya kalo untuk pembelian sampul rapot satu orang 50.000 (Lima puluh ribu) dan untuk iyuran kenaikan kelas (Samen) 50.000 anak saya dua jadi untuk itu aja mencapai 200.000 (Dua ratus ribu) belum lagi yang lain lain nya seperti pembelian baju olah raga dan batik, yang saya khawatir kan orang tua di sini kan tidak semua nya berada, katanya gratis kata nya ada dana BOS, tapi kok masih saja terjadi pungutan, ungkap nya.
Di tambah kan wali murid ada kejadian yang lebih parah lagi dari penjualan sampul rapot yakni terjadinya pungutan liar (pungli)tentang pencairan program indoesia pintar (PIP) reguler atau bantuan siswa miskin (BSM), ” kalo pip udah dapet setahun sekali, uangnya engga seberapa dan suka di potong juga sama oknum 50.000. Coba dari satu anak 50.000, kalau dari sekian anak di potong malah oknum nya yang dapat lebih banyak, tapi mau apalagi kita sebagai penerima manfa’at hanya ngikut keinginan mereka, belum lagi ongkos ojek untuk ngambil ke Bank nya, sedangkan si oknum kan enak langsung nerima 50.000 bersih tanpa ngapa – ngapain, malahan sampai saat ini buku tabungan nya pun masih di i kumpulin di sekolah, tambah nya.
Sampai berita ini di tayangkan pihak pengawas dan korwil Sukaresmi, belum bisa di Kompirmasi atas terjadi nya sejumlah pungli yang terjadi di lingkungan sekolah dasar, tepat nya di wilayang Sukaresmi, Kabupaten Garut.
( Tim )














