Faktadelik.com, Banda Aceh – Di Pendopo Kantor Gubernur Aceh, langit cerah dihiasi rembulan malam yang meski meredup ditutupi sebagian awan, sepanjang jalan menuju pendopo dalam keadaan gelap gulita karena kondisi listrik belum sepenuhnya stabil. Para pejabat, relawan, dan perwakilan lembaga yang datang tergesa-gesa membawa map dan seberkas laporan.
Pada Rabu (10/12/2025) malam itu, ruangan rapat dipenuhi wajah-wajah lelah. Namun tak satu pun menunjukkan gelagat untuk mengendurkan langkah. Semua tahu, keputusan yang akan diambil malam itu menentukan bagaimana Aceh menghadapi hari-hari berikutnya.
Gubernur Muzakir Manaf akrab disapa Mualem masuk dengan langkah tenang. Lantunan salamnya disambut anggukan penuh hormat. “Mudah-mudahan di malam yang bahagia ini kita dapat duduk bersama, berlangkah bersama,” ujarnya. Kalimat sederhana, namun terasa seperti energi baru bagi mereka yang telah berjibaku sejak bencana melanda Serambi Aceh akhir November lalu.
Ketua Posko Terpadu yang juga Sekda Aceh, M. Nasir, menyampaikan data yang membuat banyak peserta tertegun sesaat. Hingga hari itu, sebanyak 1,95 juta jiwa terdampak, 817.742 masih mengungsi, 407 orang meninggal dan dikabarkan 31 masih hilang.
Di beberapa sudut ruangan, terlihat kepala-kepala menunduk. Bukan karena lelah, tetapi karena memahami betapa panjang perjalanan yang masih harus ditempuh. Ketika dilaporkan mulai dari Aceh Tengah hingga Gayo Lues, jalan utama putus, jembatan hanyut, desa terjebak tanpa logistik.
Setelah semua laporan dibacakan, Gubernur Aceh mengambil lembaran keputusan perpanjangan masa tanggap darurat bencana di Aceh dari 12 Desember hingga 25 Desember 2025. Dengan suara tegas, ia menyatakan, “Penanganan harus terus dilakukan tanpa jeda. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama.”
Perpanjangan masa tanggap darurat selama 14 hari bukan sekadar frasa teknis. Itu berarti dapur umum tetap menyala, helikopter tetap terbang ke titik terisolasi, dan relawan tetap berjaga sepanjang malam.
Kerusakan yang terjadi kali ini sangat besar setidaknya 461 titik jalan rusak dan 332 jembatan terdampak. Akibatnya, di beberapa wilayah, warga bergotong royong membuat rakit dari drum dan papan untuk menyeberangkan obat-obatan maupun bahan makanan. Anak-anak pun ikut mengangkut barang semampu mereka.
Sementara tim Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan prajurit TNI bekerja hingga malam buta membuka akses darat yang terkunci lumpur. Kolonel Inf Fransisco dari Kodam Iskandar Muda menyampaikan evaluasi paling tajam malam itu.
Ia menemukan ada posko yang mencatat setiap bantuan dengan rapi—tetapi ada juga yang masih kewalahan hingga banyak barang masuk tanpa data. “Kita harus kendalikan semua posko,” tegasnya.
Suara itu mengingatkan semua bahwa Aceh masih dalam situasi genting, ketelitian mampu menyelamatkan nyawa manusia.
Terungkap dalam pertemuan itu, Sekda Nasir mengakui masih ada data yang belum sinkron. Ada warga hilang yang ternyata sudah ditemukan, tetapi laporan belum diperbarui. Ada pengungsi yang berpindah ke rumah kerabat tanpa tercatat. “Semua harus diperbaiki dalam tiga hari. Agar bantuan tepat sasaran, dan tidak ada satu pun yang tercecer dari radar pemerintah.”
Seturut dalam rapat itu, muncul gagasan yang disambut antusias, merekrut anak-anak muda dari kabupaten terdampak yang berada di Banda Aceh. Mereka akan membantu evakuasi, pendataan, hingga distribusi logistik.
“Siapa lagi yang paling paham wilayahnya selain mereka sendiri?” ujar Nasir.
Harapan itu muncul sebagai bentuk optimisme bahwa Aceh tidak hanya menunggu pertolongan, tetapi juga bergerak bersama. Beberapa wilayah kini mulai menunjukkan stabilitas antara lain Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Timur, dan Nagan Raya.
Namun daerah pegunungan seperti Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Aceh Tamiang masih terkepung kerusakan.
Di tempat-tempat itu, suara helikopter menjadi penanda harapan, dan kedatangan petugas medis menjadi momen yang ditunggu lebih dari apa pun.
Perpanjangan status tanggap darurat bukan hanya keputusan teknis. Ia adalah bentuk janji: bahwa pemerintah tidak akan meninggalkan satu pun warga di tengah bencana.
Bahwa angka-angka korban bukan sekadar statistik. Bahwa setiap jembatan yang runtuh akan diganti dengan jembatan solidaritas.













